Update Adiwiyata! Kreatif Peduli Lingkungan: Mengapa Siswa MTsN 2 Garut Pilih Eco Brick Jadi Pot Tanaman?
Gerakan Peduli Lingkungan dari Madrasah
MTsN 2 Garut menjadi sorotan ketika para siswanya berhasil mengubah limbah plastik yang biasanya hanya menjadi tumpukan tak bernilai, menjadi eco brick. Gerakan ini lahir dari program Gerakan Peduli Berbudaya Lingkungan Hidup Madrasah (GPBLHS) yang digagas Kementerian Agama. Tujuan utamanya sederhana tapi berdampak luas: membentuk kebiasaan ramah lingkungan di kalangan pelajar.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik di Indonesia, langkah ini menjadi bukti nyata bahwa solusi tidak selalu harus datang dari kebijakan besar. Justru dari ruang-ruang pendidikan, kesadaran itu bisa tumbuh sejak dini.
Eco Brick: Dari Limbah Menjadi Karya
Eco brick bukan hal baru, tetapi penerapannya di madrasah menunjukkan kreativitas siswa dalam mengelola limbah. Plastik bekas makanan ringan, botol air mineral, hingga kantong kresek dimasukkan ke dalam botol plastik hingga padat. Hasilnya, terbentuk “batu bata” ramah lingkungan yang bisa dipakai sebagai bahan bangunan sederhana atau bahkan pot tanaman.
Siswa MTsN 2 Garut memilih menggunakannya untuk membuat pot tanaman hias. Dengan begitu, eco brick tidak hanya menjadi bentuk pengelolaan sampah, tetapi juga memperindah lingkungan sekolah. Hal ini menumbuhkan rasa bangga pada siswa karena karya mereka tidak lagi sebatas teori, melainkan nyata bisa dimanfaatkan.
Mengapa Pilih Eco Brick?
Pertanyaan ini penting. Bukankah ada cara lain mengelola sampah plastik, misalnya daur ulang industri? Jawabannya terletak pada ketersediaan fasilitas. Tidak semua daerah memiliki akses ke pabrik daur ulang. Eco brick bisa dilakukan di mana saja, tanpa mesin khusus, dan langsung melibatkan siswa.
Selain itu, eco brick juga memberikan pembelajaran karakter. Prosesnya membutuhkan ketekunan, kerja sama, dan konsistensi. Nilai-nilai inilah yang sejalan dengan misi pendidikan madrasah: membentuk generasi berakhlak sekaligus peduli lingkungan.
Bukti Nyata di Lapangan
Di MTsN 2 Garut, siswa yang awalnya menganggap plastik bekas sebagai sampah tak berguna, kini melihatnya sebagai bahan dasar karya. Botol plastik yang dulu berserakan di kelas atau halaman kini dikumpulkan. Setiap kelas memiliki “pojok eco brick” tempat siswa menyetor hasil karya mereka.
Hasilnya kemudian dipakai untuk membuat pot tanaman di taman madrasah. Hijau sekolah pun semakin terasa, bukan hanya dari pohon, tapi juga dari kesadaran bersama.
Masukan dan Solusi untuk Keberlanjutan
Langkah yang diambil siswa MTsN 2 Garut patut diapresiasi, namun tantangan terbesar justru ada pada keberlanjutannya. Beberapa masukan dan solusi agar program ini terus berjalan antara lain:
- Integrasi Kurikulum – Eco brick bisa dimasukkan ke dalam proyek Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) agar berkelanjutan dan terarah.
- Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah – Hasil eco brick dapat dihubungkan dengan program penghijauan desa atau fasilitas umum sehingga pemanfaatannya lebih luas.
- Edukasi Keluarga dan Masyarakat – Siswa bisa menjadi agen perubahan dengan mengajarkan eco brick kepada keluarga, sehingga kebiasaan ini tidak berhenti di sekolah.
- Monitoring dan Evaluasi – Pihak madrasah bersama guru pembina perlu rutin mengevaluasi dampak kegiatan, baik jumlah plastik yang berhasil dikelola maupun kualitas produk.
Menjaga Bumi dari Hal Sederhana
Sampah plastik memang sulit diurai. Namun langkah kecil yang dilakukan siswa MTsN 2 Garut menunjukkan harapan besar. Dari limbah yang sering terabaikan, kini lahir karya yang bermanfaat.
Jika gerakan serupa dilakukan di banyak sekolah, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengurangi masalah plastik dari akarnya. Karena menjaga bumi tidak harus dengan langkah besar, tapi bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang konsisten.
(Nurul Jubaedah)
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Update Adiwiyata! Dari Kebun ke Gelas Jahe Empon-Empon: Bagaimana Siswa MTsN 2 Garut Ubah TOGA Jadi Inovasi Sehat dan Peduli Lingkungan?
Dari Kebun ke Gelas: Jejak Hijau di Madrasah Di tengah derasnya arus modernisasi, siswa MTsN 2 Garut memilih jalan sederhana namun penuh makna: menanam, merawat, dan mengolah jahe hasi
Inovasi Minyak Jelantah MTsN 2 Garut: Apakah Siswa MTsN 2 Garut Bisa Terangi Desa dengan Inovasi Lampu?
Di tengah tingginya kebutuhan energi dan meningkatnya volume limbah minyak goreng bekas, para siswa MTsN 2 Garut memunculkan gagasan segar: mengolah minyak jelantah menjadi lampu penera
Inovasi Sirop Markisa MTsN 2 Garut: Bagaimana Kreativitas Siswa Bisa Jadi Produk Unggulan Madrasah?
Inovasi Sirop Markisa yang Lahir dari Madrasah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Garut kembali menghadirkan gebrakan baru. Kali ini, inovasi datang dari peserta didik yang berhasil me
Pesantren di Madrasah : Bedah Kitab Kuning
https://youtu.be/1O7gtIfGutM Pesantren di Madrasah : Bedah Kitab Kuning (oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag guru SKI di MTsN 2 Garut) MTsN 2 Garut mengadakan program Ramadhan mula